Kamis, 17 April 2014

TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN: ~ OBSERVASI PENDIDIKAN ~



Tugas pendidikan: evaluasi hasil observasi
   A.     Identitas Sekolah
Nama sekolah                  : SD Negeri  No. 068083
Alamat sekolah                : Jl. Kemuning Kel. Tj. Rejo Kec. Medan Sunggal
Uang Sekolah                  : Dana BOS
Konsep Belajar                : offline (media mendengarkan)
  B. Uraian Aktivitas Observasi
Hari pelaksanaan    : Jum’at, 28 Mret 2014
Waktu Pelaksanaan : 08.00-10.00 wib
Pembagian Tugas    : Setiap anggota mengamati perilaku siswa
                                        dan guru berinteraksi saat proses belajar
Narasumber          : - S. Nasution, SpdI (Kepala Sekolah) 
                                     -          Beberapa pengajar (Guru)
  C. Objek Observasi
Objek yang menjadi observasi dalam tugas ini adalah siswa-siswi dari kelas V Sekolah Dasar Negeri Nomor 068083 yang khususnya pada kelas VA yang merupakan kelas pagi.

  D.     Laporan Observasi
1.    Landasan Teori
-Teory Vygotsky
Scaffolding adalah dukungan temporer yang diberikan oleh orang tua, guru atau yang lainnya kepada anak untuk melakukan sebuah tugas sampai si anak dapat melaksanakannya seorang diri. Ketika tugas yang akan dipelajari murid adalah materi atau pembahasan yang baru, maka guru akan melakukan intruksi langsung kepada murid. Saat kemampuan murid meningkat maka semakin sedikit bimbingan yang diberikan.
Zone of Proximal Development (ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu.
Pada saat pelajaran matematika guru memberikan soal dari materi yang baru saja dipelajari. Awalnya guru memberikan contoh soal dan mengerjakannya di papan tulis agar semua murid bisa melihat dan mengerti bagaimana cara mengerjakan soalnya. Tetapi soal yang diberikan guru tersebut masih tahap soal yang mudah. Setelah itu guru memberikan soal yang lain tapi masih soal yang mudah untuk dikerjakan murid secara individu. Jika murid tersebut masih mengalami kesulitan mereka menghampiri guru dan menanyakan letak salahnya dan meminta diajarkan kembali. Pada saat ini guru menggunakan metode Zone of Proximal Development (ZPD).
Selain itu guru juga menggunakan metode scaffolding, dimana setelah guru memberikan contoh soal murid diberikan beberapa soal yang masih mudah untuk dikerjakan secara individu. Jika murid sudah bisa menyelesaikan soal yang mudah, setelah itu guru memberikan soal yang lebih sulit.
=Saat guru menjelaskan materi dan menjelaskan cara menyelesaikan contoh soal guru menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan menggunakan pemikiran. Murid yang mendengarkan lalu menjawab ketika guru bertanya juga menggunakan bahasa dan juga pemikiran.

-Teori Edward Thondike
Operant conditioning adalah pembelajaran di mana konsekuensi dari perilaku menyebabkan perubahan dalam probabilitas kejadian. 3 cara dimana konsekuensi keinginan dan ketidak inginan dari kelakuan berpengaruh pada kelakuan di masa yang akan datang :
1.      Positive Reinforcement
2.      Negative Reinforcement
3.      Punishment

1.   Positive Reinforcement
Positive Reinforcement muncul pada saat konsekuensi dari kelakuan menuju pada peningkatan dalam kemungkinan bahwa kita terlibat di kelakuan kedepannya. Di positive reinforcement, konsekuensi oleh kelakuan adalah positive. Sehingga kelakuannya terlibat lebih sering. Kelakuan yang lebih sering dikatakan sebagai operant response, dan konsekuensi yang positive terhadap respon dikatakan sebagai positive reinforcement.
2.  Negative Reinforcement
Reinforcement negative (penguatan negatif) adalah peningkatan suatu frekuensi terhadap suatu perilaku yang positif karena hilangnya sebuah rangsangan yang merugikan (tidak menyenangkan)
Pada proses pembelajaran yang kami amati pada pelajaran Matematika dan Agama Islam guru menggunakan 2 metode di atas. Saat guru memberikan tugas kepada murid, bagi murid yang bisa menyelesaikan soalnya dengan benar maka murid itu akan diberikan nilai yang bagus. Sedangkan untuk siswa yang tidak bisa mengerjakannya dengan bagus maka guru akan memberikan nilai yang rendah. Nilai bagus adalah Positive Reinforcement. Negative Reinforcement nya adalah nilai yang rendah. Reinforcement adalah penguatan. Reinforcement bertujuan untuk menguatkan perilaku murid. Jadi dengan diberi nilai yang baik murid akan bersemangat untuk mendapatkan nilai yang baik lagi jika nanti diberikan tugas. Sedangkan bagi murit yang mendapatkan nilai rendah, murid akan termotivasi untuk mendapat nilai yang baik.
Tapi selama proses belajar berlangsung, murid yang ribut, berjalan-jalan dalam kelas atau yang mengobrol, dibiarkan saja oleh guru. Seharusnya guru juga menerapkan metode negative reinforcement disini. Seperti menegur murid, agar murid tidak rebut lagi. Jadi suasana kelas akan menjadi lebih baik.
3.     Punishment
Punishment  adalah merupakan konsekuensi negatif yang mengarah pada pengurangan frekuensi perilaku yang menghasilkannya.

Namun, selama proses observasi berlangsung, kami tidak menemukan metodee ini pada proses belajar yang dilakukan guru pada siswanya.

-Teori Richard Atkinson dan Richard Shiffrin
Teori mereka adalah teori information-processing. Pendekanan information-processing menyatakan bahwa memori dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu encoding, storage, retrieval. Namun dalam proses tersebut terlibat pula tiga system memori yang berbeda, yaitu sensory register, short term memory dan long term memory.
Encoding adalah sebuah proses saat informasi masuk ke dalam penyimpanan ingatan. Storage adalah Penyimpanan terhadap apa yang telah diproses dalam econding. Dan retrieval adalah mengambil informasi dari penyimpanan.
Tiga system memori
Sensory register menyimpan informasi dari dunia dalam bentuk sensoris aslinya dalan waktu sangat singkat. Sensory register menyimpan setiap gambar dari pengalaman indrawi sampai bisa dip roses dengan sempurna. Sensory register sangat kaya dan detai, tapi informasi ini akan cepat hilang.
Short term memory adalah suatu proses penyimpanan memori yang bersifat sementara. Short-term memory adalah system ingatan dengan kapasitas yeng terbatas saat informasi dipertahankan selama sekitar 30 detik.
Long term memory atau memori jangka panjang adalah suatu proses memori atau ingatan yang bersifat permanen, artinya informasi yang disimpan  bertahan dalam waktu yang sangat panjang
Metode ini telah digunakan pada murid ketika belajar karena terbukti saat mereka belajar tentang agama Islam dan sebelum memulai pelajaran mereka mengulang pelajar sebelumnya tentang hafalan salah satu ayat Alqur’an. Pada waktu guru memberikan materi, murid mendengarkan, secara tidak langsung murid memasukkan informasi ke dalam penyimpanan. Ini dinamakan encoding. Kemudian murid menyimpan dalam otak apa yang guru jelaskan, proses ini dinamakan storage. Sedangkan saat guru bertanya lalu murid menjawabnya, ini merupakan proses retrieval. Karena murid mengambil kembali informasi yang sudah disimpan.
Saat murid ingin menyimpan informasi dari materi yang diberikan oleh guru, awalnya informasi ini masuk di sensory register, melalui proses atensi (pemrosesan secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya, seperti saat guru menjelaskan banyak materi, hanya beberapa yang akan diingat) informasi bergerak ke short term memory. Pada bagian ini informasi akan bertahan selama 30 detik. Kecuali dengan meningkatkan memori. Yaitu dengan pengelompokkan atau pengulangan. Lalu memori akan masuk ke long term memory. saat informasi masuk ke long-term memory, informasi dapat diambil kembali seumur hidup.
-Teknologi dan Pendidikan
Di sekolah dasar 068083 belum memakai fasilitas teknologi. Seperti belum ada pemakaian komputer, proyektor, ataupun internet. Padahal sejak sekolah dasar murid sudah pantas diajarkan atau dikenalkan dengan teknologi. Dari info yang kami dapat, hal ini terjadi karena kurangnya dana dan kurang perhatiannya pemerintah pada jenjang pedidikan dasar. Kami menemukan Laboraturium Komputer namun tidak pernah digunakan sesuai dengan fungsinya karena tidak adanya alat yang mendukung.
-Berbagai Pendekatan
1.     Behavioral/behaviorisme
Pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat dipahami, bukan dengan proses mental. Proses mental didefinisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, yaitu ada 2 pendekatan :
a.  Pengkondisian Klasik
Tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas.
Misalnya : anak gagal dalam ujian dan ditegur, dan ini menghasilkan kegelisahan; setelah itu, anak mengasosiasikan ujian dengan kecemasan sehingga menjadi stimulasiyang terkondisi untuk kecemasan.
b.  Pengkondisian Operan
Sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Konsekuensi-konsekuensi tersebut disebut sebagai penguatan dan hukuman.
2.    Kognitif
Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Terdapat 4 pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran : kognitif sosial, pemrosesan informasi kognitif, konstruktivis kognitif, dan konstruktivis sosial.
·         Pendekatan kognitif sosial, yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan, dan orang saling berinteraksi memengaruhi proses pembelajaran.
·         Pendekatan kedua, pemrosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya.
·         Pendekatan ketiga, konstruktivis kognitif, menekankan konstruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pemahaman.
·         Pendekatan keempat, konstruktivis sosial, fokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.






Pada foto yang kami ambil di atas, merupakan keadaan ketika guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan setelah guru telah selesai menjelaskan. Proses pembelajaran seperti ini kami simpulkan bahwa guru secara tidak langsung menggunakan teori pembelajaran kognitif dengan pendekatan konstruktivis kognitif, dimana anak-anak diharapkan dapat memahami apa yang telah diajarkan oleh pendidik kemudian dapat mengerjakan latihan-latihan yang terdapat pada buku.
Namun di sisi lain, pengaruh letak duduk & keadaan kelas juga mempengaruhi secara tidak langsung. Karna jika diamati dengan jelas pada gambar tersebut, beberapa siswa yang duduk dibagian belakang mulai bermalas-malasan ketika guru tidak terlalu fokus kepada mereka.
2.  Metode Observasi
Riset Deskriptif. Riset ini bertujuan mengamati perilaku. Misalnya seorang ahli psikologi pendidikan mengamati sejauh mana anak-anak bersifat agresif di dalam kelas, atau mewawancarai guru tentang sikap mereka terhadap jenis strategi tertentu.
Untuk memenuhi tugas observasi ini, kami menggunnakkan metode seerti yang diatas karena kami hanya mengamati bagaimana proses belajar mengajar yang terjadi antara guru dan siswa. Kami juga mengamati bagaimana interaksi yang terjadi saat proses belajar berlangsung.
3. Manajemen Kelas
Kelas yang di observasi terdiri dari 33 orang dimana jumlah siswa yang semakin banyak bisa menurunkan daya konsentrasi dan semangat belajar serta motivasi yang diberikan. Serta terjadi ketidak efektifan proses belajar. Ruangan kelas menggunakan gaya penataan audotirium, dimana semua murid duduk menghadap guru.

      E.Rangkuman Hasil Observasi
Penerapan teori-teori yang terjadi pada proses belajar di kelas observasi memberikan manfaat dimana murid lebih memahami apa yang disampaikan guru dan mudah untuk bagaimana mereka mengerjakan soal yang sulit, tugas yang diberikan juga bisa menjadikan latihan dalam belajar tentang materi yang telah disampaikan oleh pengajar.
Namun, menurut kami masih kurang efektif proses belajar yang terjadi karena guru tidak memberikan reinforcement pada siswa yang tidak mengikuti pelajaran atau tidak mengerjakan tugas, sehingga siswa tidak mengerti tentang konsep dirinya swebagai seorang siswa. Mereka juga tidak menemukan motivasi yang dibutuhkan pada saat belajar.
Kefektifan itu terjadi disebabkan juga kondisi dari lingkungan yang terjadi pada anak dimana lingkungan juga telah mempengaruhi sistem belajar mereka serta pengalaman diruma bersama orangtua menjadikan mereka mengambil kesimpulan tersendiri atas motiv belajar yang mereka gunakan.

  F.Testimoni Tentang Perencanaan dan Proses Observasi
Ada banyak kendala saat melakukan perencanaan untuk observasi, dimana untuk menentukan sekolah, jenjang dan yang lebih sulit saat menyatukan semua waktu anggota untuk berkumpul membahas tentang tugas ini. Dengan hati yang sangat jujur, kami merencanakan ini seminggu sebelum deadline ditentukan dan itu sangat mendadak menurut kami. Tapi kami menemukan kekompakan dimana dengan pembagian tugas masing-masing saat merencanakan untuk tuugas observasi.
Dessy Awallia-131301020~ Dimana sulitnya untuk mencari sekolah, meminta izin dengan kepala sekolah, mengurus surat izin dan mengatur pertemuan selanjutnya untuk melakukan observasi. Berkomunikasi dengan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung dan yang agak sulit saat menyusun kata-kata untuk meminta izin. Mengatur konsep observasi yang berlangsung. Banyak belajar menjadi seorang leader dalam kelompok yang menguji kesabaran, keikhlasan, serta menampun semua pendapat dari anggota.
Safira Salsabila-131301040~Tugas yang mungkin tidak berat tapi lumayan menguji kesbaran untuk menunggu surat izin keluar dan memberikannya kepada Kepala Sekolah dan mencari bagaimana mendapatkan kamera sebagai peralatan yang dibuutuhkan saat observasi dan mengatur metode yang harus dipakai saat observasi dan menganalisis observasi berdasarkan metode yang digunakan. Namun, semua bisa terselaikan saat kelompok bisa bekerja sama dalam proses terjadi.
Mutia Lestari-131301070~ Mengamati dan mencoba berinteraksi dengan anak-anak sekolah dasar itu adalah kesulitan yang mungkin membuat hati nurani berbicara bagaimana dahulu saat menjadi seorang anak sekolah dasar memiliki sifat yang unik dan kepolosan yang masih natural saat bertemu dengan orang lain. Menganalisis semua hasil pengamatan dengan teori-teori yang ada mungkin tidak terlalu sulit namun begitu rumit untuk mengatur kata-kata yang tepat tentang anak-anak itu.
Dwi Clara-131301116~ Mengambil data untuk dokumentasi adalah hal tidak sulit namun saat meminta izin untuk mengajak anak-anak itu untuk pengambilan data menjadi hal sulit untuk mengatur psisi mereka dan membuuat mereka berdiam sesaat. Tapi saya belajar dari mereka bahwa beginilah anak-anak yang masih berkembang dengan naturalnya seorang anak.
Dessy Natalia-131301130~ Mengamati interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar menjadi pelajaran bagi saya sendiri. Begitu sulitnya mengamati mereka dalam proses belajar, dimana ada yang bermain-main saat guru menerangkan, ada yang bercerita dengan temannya saat pelajaran berlangsung dan yang paling sulit adalah saat observasi berlangsung dan mereka tau sedang d observasi, dimana mereka menjadi baik saat kami mengamati interaksi mereka. Namun, itu semua sudah bagian dari resiko observasi ini.
Dengan semua kendala dan pelajaran yang kami lalui dalam proses observasi sampai selesai menjadikan kami belajar untuk merencanakan hal yang lebih baik lagi sesuai dengan konsep dan metode yang tepat. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu jalnnya proses observasi ini dan terkhusus pada yang teah bersedia kami observasi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua dosen Psikologi Pendidikan atas tugas yang telah diberikan ini terutama kepada Ibu Filia Dina Anggaraeni yang telah membantu kami  dan dengan senantiasa selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami saat kami tidak memahami tugas ini, serta arahan yang telah diberikan kepaa kami.

   G.   Dokumentasi







 SLIDE SHARE (PPT)





Address link kelompok 13:

Dessy Awallia 131301020 
Safira Salsabila 131301040 
Mutia Lestari 131301070
Dwi Clara 131301116 
http://dessychologist.blogspot.com/ 
Dessy Natalia 131301130

 

Sabtu, 05 April 2014

TIPOLOGI CATTELL~kepribadian menurut Cattell

TIPOLOGI CATTELL TENTANG KEPRIBADIAN
A.    Definisi

Raymond B. Cattell mengatakan “ personality is that which permits a prediction of what a person will do in a given situation”. Maksudnya, kepribadian itu mampu memprediksi perilaku yang akan dilakukan seseorang dalam keadaan situasi yang tertentu. Contohnya, seseorang yang traitsnya suka menyendiri saat teman-temannya sedang menggosip, maka kita akan memprediksikan perilaku yang akan terjadi padanya saat teman-temannya mengajak untuk santai ditempat makan sambil menggosip. Cattel juga berfokus pada seluruh bentuk perilaku baik dari luar maupun dalam.

B.     Struktur Kepribadian
Struktur kepribadian menuurut Cattell yaitu bentuk struktur kompleks dari trait. Trits sendiri dikelompokkan menjadi beberapa bagian oleh cattell:

1.      Common Traits
Common traits adalah karakter yang setiap orang itu memilikinya namun tingkatannya berbeda. Cotohnnya, setiap orang memiliki inteligensi masing-masing tapi memiliki perbedaan pada tingkat inteligensinya.
Sedangkan, Unique traits merupakan karakter yang tidak semua orang memilikinya, artinya lebih sedikit ruang lingkupnya dan biasanya menjadi keunikan tersendiri dari orang tersebut. Contohnya, tidak semua orang bisa membuat bibirnya sampai kehidungnya misalnya seperti artis Hendrik ceper.

2.      Unique Traits
Unique traits merupakan karakter yang tidak semua orang memilikinya, artinya lebih sedikit ruang lingkupnya dan biasanya menjadi keunikan tersendiri dari orang tersebut. Contohnya, tidak semua orang bisa membuat bibirnya sampai kehidungnya misalnya seperti artis Hendrik ceper.

3.      Ability Traits
Traits yang menentukan seberapa mampu seseorang dapat berusaha untuk mendapatkan sebuah tujuan. Contohnya, dengan tingkat inteligensi seseorang kita dapat memperkirakan seberapa keras seseorang itu mampu mencapai tujuannya.

4.      Temprament Traits
Sifat yang dapat menggambarkan emosi seseorang secara umum dan biasanya ditandai dengan tingkah laku yang diperlihatkan. Contohnya, seseorang gugup ketika sedang berada didepan orang banya. Hal tersebut merupakan gambaran emosi dengan tingkah laku yang diperlihatkan oleh orang tersebut.


5.      Dynamic Traits
Karakter yang mengendalikan tingkah laku dan emosi seseorang. Contohnya, dorongan dan motivasi.

6.      Surface Traits
Karakter kepribadian yang terlihat dari luar atau bisa diamati secara mudah. Contohnya, orang yang suka menyanya, orang yang selalu membuat nyamn., dll.

7.      Source Traits
Sourse traits merupakan unit terpenting dari traits karena traits ini yang membangun surface traits. Contohnya, orang yang sering bertanya dan belajar akan kita katakan bahwa orang tersebut adalah rajin.
Berdasarkan asalnya, source trait ini dapat diklasifikasikan menjadi:
*        Constitutional Traits Sifat Konstitusi berasal dari kondisi biologis, seperti kecenderungan mengkonsumsi alkohol mengarah ke perilaku seperti kecerobohan, banyak bicara, dan bicara cadel.
*        Environmental-mold karakteristik didapatkan dari proses belajar dengan lingkungannya. Misalnya, perilaku anak yang di didik dengan cara kekerasaan dengan perilaku anak yang di didik dengan cara memotivasi dengan lembut pasti akan berbeda.

C.    Dinamika kepribadian

1.      Ergs
Ergs adalah dorongan motivasi dari dalam atau dari dasar sifat bawaan dari seseorang untuk mencapai tujuan. Misalnya, rasa ingin tahu, kemampuan bersosialisasi, dll.

2.      Sentiments
Lain dari ergs, sentiments sendiri merupakan dorongan motivasi dari luar seperti, lingkungan dan diperoleh dari proses belajar. Misalnya, karier, agama,dll.

3.      Attitudes
Sikap, emosi, dan perilaku terhadap sesuatu atau peristiwa merupakan definisi yang lebih luas dari yang biasa kita definisikan.

4.      Subsidation
Antara ergs, sentiments dan temprament adaah saling berhubungan satu sama lain dengan rantai subsidation. Konsep ini yang menjelaskan proses kepribbadian melalui motivasi.

5.      The Self-sentiment
Ini merupakan konsep diri kita, tercermin hampir di semua sikap dan perilaku kita.

D.    Perkembangan Kepribadian

Walaupun Cattell tidak mengikuti Freud, tapi Cattel setuju dengan ide freud yang mengatakan bahwa tahun-tahun awal kehidupan sangan penting dalam membentuk kepribadian.

1.      Infancy
Masa ini dimulai sejak lahir hingga umur 6 tahun (0-6 tahun). Ditahap ini beberapa perilaku sosial terbentuk dari ego dan superego, perasaan aman atau tidak aman, kecenderungan untuk menjadi pribadi yang mudah memiliki emosi negativ (neuroticims), sikap terhadap otoritas diri. Pada tahap ini juga, anak sangat dipengaruhi oleh orang tua dan sekitarnya serta pengalaman.

2.      Childhood
Masa ini dimulai sejak umur 6-14 tahun. Tahapan ini ditandai dengan dimulainya kemandirian dan keinginan untuk bebas dari orang tuanya sejalan dengan meningkatnya identifikasi dengan pertemanan dan kelompok sosialnya.

3.      Adolescence
Tahap kanak-kanak diikuti oleh tahap perkembangan kepribadian yang bermasalah dan penuh dengan tekanan (stressful), yaitu pada tahap remaja di antara 14-23 tahun. Konflik yang dialami pada umunnya seputar kemandirian, jati diri, dan seks.

4.      Maturity
Perkembangan kepribadian menjadi lebih stabil daripada tahap sebelumnya, begitupula secara emosionalnya. Pada umumnya ditahap ini merupakan periode kepuasan dan produktivitas karir individu, pernikahan, dan keluarga. Tahap ini disebut jga dengan tahap dewasa awal, 23-50 tahun.

5.      Late Maturity
Biasanya pada tahap ini individu menilai kembali jati dirinya selama ini dan mencoba memperbaikinya untuk menjadi pribadi baru. Tahap ini juga disebut sebagai dewasa akhir (50-65 tahun).

6.      Old Age
Masa ini dimulai pada usia 65 tahun keatas. Ada masa ini penyesuian diri terhadap kehilangan orang-orang terdekat.

E.     Psikopatologi
Psikopatologi adalah ilmu tentang gangguan mental, keadaan mental yang berbahaya dan abnormal. Psikologi abnormal istilah lebih familiar digunakan  pada non-medis bidang psikologi. Cattell mengemukakan dua bentuk psikopatologi, yaitu:
1.      Ketidakseimbangan fungsi faktor umum: faktor-faktor umum yang telah dikemukakan sebelumnya pada The 16 PF Questionnaire berjalan tidak seharusnya. Misalnya, jika factor A tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka akan menghasilkan  manic depressive, yaitu kondisi mood yang dapat berubah secara ekstrim dan tidak menentu.
2.      Sifat patologis sebagai factor terpisah ciri-cirinya tidak termasuk di dalam factor umum pada The 16PF Questionnaire. 7 ciri yang diawali huruf  D merupakan ciri abnormalitas yang dicirikan sebagai depresi.
Berikut merupakan gangguan mental yang telah dibedakan oleh Cattell:
·     D1
Low Hypocondriasis
= Senang, pikiran baik dengan bekerja , tidak menemukan sakit yang berbahaya
·         D2
Zestfulness= Puas dengan kehidupan dan sekitarnya, tidak memiliki keinginan kematian
Suicidal Disgust= Benci dengan kehidupan, pikiran kacau, dan tindakan menghancurkan diri
·         D3               
High Brooding Discontent= Mencari kegembiraan, mengambil risiko, mencoba hal baru
Low Brooding Discontent = Menghindari hal hal yang berbahaya dan petualang, membutuhkan sedikit kesenangan
·         D4   
Low Anxious Depression= Tenang dalam keadaan darurat, peduli dengan sekitar,  sigap   
High Anxious Depression= memiliki mimpi yang mengganggu, ceroboh dalam menangani hal, tegang, mudah marah
·         D5   
High Energy Euphoria= Menunjukkan semangat dalam bekerja, energik, tidur nyenyak     
Low Energy Euphoria = kelelahan, kekhawatiran, tidak bersemangat menghadapi masalah.                 
·         D6   
Low Guilt and Resenrment = Tidak merasa bersalah, bisa tidur, tidak peduli apa yang tersisa
High Guilt and Resenrment = Memiliki perasaan bersalah, menyalahkan diri atas segala hal, kritis pada diri sendiri.
·         D7               
Low Bored Depression= Santai, perhatian, ceria dengan orang.     
High Bored Depression = Menghindari kontak dan keterlibatan dengan orang-orang, mencari isolasi, menunjukkan rasa tidak nyaman dengan orang.
·         Pa    
Low Paranoia= Percaya, tidak merasa cemburu atau iri hati.
High Paranoia= Mempercayai bahwa ia dimata-matai, diperhatikan, dianiaya.

·         Pp   
Low Psychopathic Deviation= Menghindari keterlibatan dalam tindakan ilegal atau melanggar aturan, sensitif.
HighPsychopathic Deviation = Merasa tidak butuh bantuan, suka melanggar aturan, tidak merasa bersalah.
·         Sc    
Low Schizophrenia = Realistis terhadap diri sendiri, memiliki kestabilan emosi.    
High Schizophrenia= Salah mempersepsikan sensasi yang diterima indera, menyendiri.
·         As   
High Psychasthenia= melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang, tidak dapat mempertahankan dirinya untuk berada dalam keadaan normal.      
·         Ps    
Low General Psychosis= Percaya diri, mandiri.
High General Psychosis = Merasa dirinya lemah, tidak berguna.

F.     Isu-isu Penting Dalam Kepribadian

1.    Past and Present
Bagi Cattell, antara Past and Present sama-sama kuat dalam mempengaruhi kepribadian seseorang. Menurutnya akan mudah memperkirakan perilaku seseorang apabila telah bersama dalam waktu yang cukup lama (past) dan bersifat konsisten. Namun perilaku yang terjadi secara spontanitas sangat mungkin akan muncul. Oleh sebab itu, Cattell memutuskan bahwa antara Past and Present sama kedudukannya.
2.    Freewill and Determinism
Determinism adalah kemampuan individu dalam mengontrol perilakunya sendiri dan memahami motivasi dibalik perilaku tersebut. Sebaliknya, freewill  adalah perilaku individu yang didasarkan keinginan yang tidak dapat terkontrol oleh dirinya sendiri. Menurut Cattell, seorang individu mampu mengontrol perilakunya sendiri (determinism), dan keberadaan freewill sangat kecil kemungkinannya untuk mempengaruhi pembentukan pribadi seseorang.
3.      Nature and Nurture
Cattel memberi perhatian besar terhadap pengaruh relatif dari keturunan dan lingkungan dalam membentuk kepribadian. Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa untuk beberapa traits, factor keturunan berperan penting dalam hal ini. Cattel menyimpulkan sepertiga dari kepribadian didasari oleh genetika dan dua per tiganya ditentukan oleh factor social dan pengaruh lingkungan.
4.    Uniqueness and universality
Bagi Cattell setiap individu memiliki ciri khas atau keunikannya masing-masing, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Namun keunikan-keunikan ini umum adanya, karena setiap manusia memiliki setiap keunikannya, meskipun keunikan yang dimiliki masing-masing berbeda. Karena itulah Cattell memutuskan bahwa kedudukan antara Uniqueness and universality adalah sama dalam pembentukan pribadi individu.
5.    Equilibrium and Growth
Menurut Cattel Equilibrium and Growth adalah sama dan seimbang. Karena baginya setiap perilaku individu terjadi atas dasar ingin menjaga keseimbangan dalam hidupnya agar berjalan sebagaimana mestinya. Namun disamping itu, individu memilki keinginan dan motivasi yang sama kuatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam hidup mereka.
6.    Optimism and Pessimism
Berdasarkan pengalamannya Cattel berpendapat bahwa setiap manusia dibekali dengan sifat optimism. Sebab dimasa kecilnya Cattell sangat optimis bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat. Ia mempresiksi bahwa individu akan mendapat pengetahuan yang lebih baik dalam mengontrol lingkungan.

G.    Assessment And Research

1.      Assessment
Pengukuran kepribadian oleh Cattel menggunakan tiga teknik, yaitu : .L-data (life records), Q-data (questionnaires) dan T-data (test). Teknik L-data berupa pengamatan tentang perilaku subjek tertentu di  kehidupan nyata. Hal yang penting yaitu L-data meliputi perilaku yang dapat diamati dan berlangsung di lingkungan nyata. Contoh: pengamat merekam konsistensi bekerja di kantor, kestabilan emosi pemain di lapangan sepak bola , dan sebagainya.
Teknik Q-data diperoleh dari kuesioner. Jika pada L-data, pengamat yang menilai subjek yang diteliti, maka untuk teknik Q-data, subjek yang menilai dirinya sendiri melalui kuisioner. Teknik ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu : 1. Seseorang yang kurang mengenal dirinya sendiri tidak akan mengisi kuisioner sesuai kepribadian aslinya. 2. Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik tidak akan mau menuliskan yang tidak baik. Oleh karena itu, hasil kuisioner dianggap belum tentu benar.
Teknik T-data melibatkan penggunaan tes objektif, di mana seseorang merespon tanpa mengetahui perilaku apa yang sedang dievaluasi. Tes ini menghindari kekurangan Q-data dengan menyulitkan subjek untuk mengetahui  tes apa yang sedang  diukur. Jika subjek tidak mengetahui hal apa yang sedang diukur, maka subjek tidak akan bisa menyembunyikan sifat asli orang tersebut. Misalnya, jika anda ditunjukkan pada sebuah inkblot , Anda tidak bisa memprediksi apakah interpretasi respons anda mengungkapkan bahwa anda seseorang yang mudah bergaul atau pemalu, gelisah atau tenang. Cettell menyebut tes ini seperti Rorschach, tes apersepsi tematik, dan tes uji asosiasi yang bersifat objektif.

Tes PF 16
Tes yang paling dikenal adalah PF 16 yang didasarkan dari 16 sifat sumber utama. Tes ini ditujukan pada orang-orang yang berusia 16 tahun atau lebih dan hasil skornya berasal dari 16 skala. Tes ini bersifat objektif dan banyak digunakan untuk menilai kepribadian dengan tujuan penelitian, diagnosis klinis,dan prediksi kesuksesan.

2.      Research
Cattel membagi tiga cara untuk mempelajari kepribadian, yaitu: pendekatan variate, clinical, dan multivariate. Pendekatan bivariat adalah metode standar dimana psikolog  memanipulasi variabel independen untuk menentukan adanya efek pada perilaku subjek. Pendekatan ini  juga bisa disebut univariate, karena hanya satu variabel yang diteliti pada suatu waktu. Pada kenyataannya, kepribadian itu dipengaruhi oleh banyak variable. Ini membuat Cattell berpendapat bahwa hal ini hanya memiliki aspek terbatas pada kepribadian
Pendekatan clinical, meliputi studi kasus, analisis mimpi, asosiasi bebas, dan teknik yang sama, sangat subjektif,oleh karena itu, tidak menghasilkan data diverifikasi dan terukur.
Pendekatan multivariate, Cattell memilih pendekatan ini karena menghasilkan data yang sangat  spesifik. Cattel membagi dua bentuk analisis faktor, yaitu: teknik R dan teknik P. Teknik R melibatkan pengumpulan sejumlah besar data dari kelompok yang diteliti. Trait ditentukan dari korelasi antar semua nilai. 






DAFTAR PUSTAKA

Hall, Calvin, Gardner Lindzey, Jhon C. Loehlin, dan Martin Manosevitz. 1985. Introduction
            to Theories of Personality. Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Shultz, Duane P., dan Sydney Ellen Shultz. 2005. Theories of Personality. 8th. Amerika:
            Wadsworth.
Pervin, Lawrence, Daniel Cervone, dan Oliver P. John. 2005. Personality Theory and
            Research. 9th. Amerika: John Wiley & Sons, Inc.
Sumber Lain:
http://12029ma.blogspot.com/2013/04/tipologi-kepribadian-cattell.html